Cabup Bandung Kurnia Agustina Ingin Bangun Techno Park

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Calon Bupati Bandung nomor urut 1, Kurnia Agustina menyatakan dirinya akan  membangun Techno Park di Kabupaten Bandung jika terpilih di Pilbup Bandung 9 Desember 2020. Techno park tersebut di dalamnya mau disiapkan inkubator bisnis dan akan disinergikan dengan para akademisi, masyarakat, CSR dan lainnya. Techno Park juga bisa dijadikan tempat untuk menampung keluh-kesah terkait kendala dengan dihadapi oleh para pelaku UKM.

“Teman-teman dari berbagai kalangan dan bagian bisa datang langsung ke Techno Park tersebut yang dijadikan inkubator bisnis nantinya, ” ujar perempuan yang akrab disapa Teh Nia saat wawancara di Kecamatan Cimaung, Kamis (12/11/20).

Dalam kunjungannya ke Kecamatan Cimaung, Teh Nia menemui serta berbincang dengan petani kopi dengan ada di sana. Dalam pertemuan tersebut, Teh Nia mengatakan para petani kopi tidak hanya memikirkan hasil panen yang bagus. Akan tetapi, lanjutnya, para petani kopi pula berharap ada produk yang bani dari biji kopi tersebut.

“Ini baik sekali. Karena pada hakikatnya kita tahu, ketika kita mengelola dengan bahan mentah, akan berbeda dengan jika kita mau mengurainya ke bentuk produk kemasan yang lebih bisa acceptable dan marketable. Kemudian tinggal pengelolaan secara manajerialnya, ” tutur Teh Nia.

Salah satu sekatan yang dialami oleh para petani kopi di Cimaung adalah sedang belum adanya koperasi, dan pembinaan masih dilakukan secara parsial. Teh Nia mengatakan dalam pengayaan bibitnya juga masih bermacam-macam. Padahal yang diinginkan adalah jenis spesiality dalam mana sangat mengutamakan homogen pada tanamannya. Termasuk juga dengan kualitasnya untuk rasanya yang harus pasti terjaga.  

Teh Nia yang berpasangan dengan Usman Sayogi di Pilbup Bandung itu, mendorong para petani kopi untuk ikut serta di berbagai festival yang digelar oleh para komunitas kopi, baik pada tingkat provinsi, nasional dan bahkan internasional. Menurutnya, hal tersebut menjadi peluang yang sangat besar. “Cimaung menyimpan banyak potensi. Kita betul mengapresiasi keinginan dari para petani kopi ini, ” kata Teh Nia.

Selain memaparkan program untuk peningkatan kesejahteraan petani kopi, Teh Nia akan memanfaatkan magot untuk memukul masalah sampah. Bagi sebagian karakter,   magot dianggap sesuatu yang menjiikan. Namun, kata Teh Nia, magot tidak hanya memiliki laba untuk lingkungan, tapi juga mampu membawa benifit ekonomi. Oleh sebab itu, magot bisa menjadi peluang ekonomi dan harus dikembangkan bertambah lanjut dalam rangka mengentaskan perkara lingkungan, utamanya terkait dengan kotor.

“Karena seperti kita ketahui, dalam utama hari ada empat kwintal kotor per RW. Kalau kita tidak mengurai dan mengelolanya sekarang, itu akan diwariskan ke generasi   selanjutnya. Apakah mau, anak kita diwarisi sampah?, ” ucapnya.

Sampah sungguh menjadi suatu permasalahan daerah, termasuk di Kabupaten Bandung. Sewaktu bersama-sama dengan Forum Kabupaten Bandung Sehat, Teh Nia mengaku sudah melayani beberapa tatanan untuk mengatasi urusan sampah ini. Namun itu sifatnya masih dalam lingkup forum serta komunitas saja. Kata Teh Nia, permasalahan sampah harus dikelola dengan berkesinambungan dan berkelanjutan.

“Pemilihan dasar yang sudah dikenakan ke rumah nikah itu adalah pemilihan sampah lepek dan kering. Dalam beberapa bank sampah yang kita lihat ini sangat tematik. Dan sepertinya itu inovatif untuk merangsang masyarakat, di mana ketika melihat sampah ini, sebagai suatu berkah yang mendatangkan keuntungan, ” kata Kurnia Agustina. (*)