Rayakan WPD 2020, Mahasiswa Farmasi Semarang Tuntut Payung Hukum

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Segenap Indonesia (ISMAFARSI) Kota Semarang pada Jumat (25/9/2020) merayakan Hari Apoteker Sedunia atau World Pharmacist Day (WPD) di depan gedung DPRD Jawa Tengah dengan menyerukan isu yang dianggap merugikan profesi farmasi.

Ulah ini menyerukan agar pemerintah menganjurkan payung hukum kepada para karakter farmasi. Tuntutan tersebut disampaikan secara membentangkan spanduk ‘Kami Butuh Payung Hukum’ serta orasi dan maklumat sikap.

Meski dilakukan secara offline tetapi aksi tersebut tetap   berlaku dengan menggunakan protokol kesehatan.

Salah seorang koordinator aksi, Anggria menyampaikan jika WPD merupakan agenda tahunan perayaan farmasi se dunia. Kali ini tema yang diangkat dari Federation International Pharmaceutical (FIP) yakni Transforming Global Health.

Dalam pernyataan tertulis, ISMAFARSI sendiri menerjemahkan tema khusus tersebut dengan kondisi Indonesia yaitu akan bertransformasi menuju bangkitnya eksistensi farmasi Indonesia.

Untuk itu, ISFARMASI menyerukan agar pemerintah segera membuat payung patokan bagi profesi farmasi. “WPD harus kita jadikan momentum untuk mempersatukan seluruh insan farmasi dan meningkatkan eksistensi farmasi indonesia, ” perkataan Anggria kepada TIMES Indonesia.

Dirinya memasukkan jika ISMAFARMASI kecewa karena   UU Kefarmasian dikeluarkan dari prolegnas prioritas 2020. Selain itu akhirnya juga ada beberapa isu dengan merugikan profesi farmasi.  

“Pelemahan penyajian kefarmasian masuk golongan non medis (PMK No. 3 Tahun 2020). Ada Apoteker yang dipidanakan, ” tambahnya.

Selain itu dalam beberapa bulan belakangan ada beberapa Apotek yang disidak polisi dituduh penimbunan masker dan hand sanitizer.

Bahkan mereka yang terlibat aktif dalam membantu negeri untuk peduli terhadap penanganan covid-19, tidak menerima insentif relawan covid-19. Mereka juga dilarang untuk mengeluarkan obat keras secara online.

Walaupun upaya tuntutan masih panjang karena hanya beberapa poin yang disampaikan pada aksi tersebut, akan tetapi kelakuan kali ini sudah mendapatkan respon dari pihak DPRD Jateng dan bakal menyampaikan aspirasi tersebut ke tingkat nasional.

“Aksi ini tentunya akan saya kawal hingga nantinya terlihat progress dari RUU ke-Farmasian yang harapannya bisa masuk dalam prolegnas yang diprioritaskan, ” sambungnya.

Massa aksi ini diikuti oleh mahasiswa farmasi daripada sederet universitas di Kota Semarang, antara lain Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Semarang (STIFAR), Universitas Sultan Agung (Unissula), Universitas Ngudi Waluyo, & Universitas Wahid hasyim (Unwahas). (*)