19 Tahun Tragedi WTC (7): Bujukan Imam Shamsi Ali Dijadikan Pokok Pidato Presiden BushÂ

TIMESINDONESIA, NEW YORK – Tak diduga bisikan Direktur Jamaica Muslim Center yang juga Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali pada Kepala Bush soal Islam bukan teroris menjadi bahan pidato Bush dalam Islamic Center. Ini babak hangat Islam di AS pasca Tragedi WTC. Dan semuanya merupakan tagan besar tokoh Muslim asal Makassar, Indonesia ini.

***

Di Islamic Center Washington DC, didampingi oleh kira-kira tokoh Muslim Amerika, Presiden Bush menyampaikan pidato singkatnya. Walaupun singkat, pidato itu menjadi viral karena memang semua media nasional maupun internasional meliputnya.  

Berbeda antara pidato Bush di Ground Zero sehari sebelumnya dengan pidatonya di Islamic Center DC. Di Ground Kosong Presiden Bush menyampaikan deklarasi konflik: “The world will hear us. And the people who knocked down these buildings will hear us soon” (Dunia akan mendengar kita. Dan orang-orang yang menjatuhkan gedung-gedung ini akan mendegar kita dalam waktu dekat).  

Pidato inilah yang kemudian dibuktikan dengan serbuan ke Afghanistan. Juga ke Irak di belakang hari. Artinya khotbah yang disampaikan Bush di Ground zero itu merupakan pidato balas dendam. Dendam yang di kemudian hari menghancurkan Irak.  

Sementara pidatonya pada Islamic Center DC lebih banyak ditujukan untuk menetralisir keadaan ataupun kebencian dan kekerasan kepada Masyarakat Muslim di Amerika yang semakin memburuk saat itu.  

Saya salah seorang yang menjadi saksi suasana itu. Beberapa kali saya diajak hadir oleh Kepolisian New York bersama Imam E. Pasha menengok korban kekerasan. Kejadian terbanyak ketika itu ada di Brooklyn, dalam mana ada kantong-kantong Komunitas Muslim etnis Arab.  

Memang serangan dan kekerasan pada umumnya dialami sebab Muslim keturunan Timur Tengah serta Desi (Asia Selatan). Kata Desi adalah kata populer bagi Muslim IPB (Indian Pakistan Bangladesh). Ke-2 Komunitas Muslim inilah yang memutar sering mendapat serangan.

Saya kira tidak saja karena 9/11. Tapi dasar Islam di Amerika lebih identik dengan Timur Tengah dan Asia Selatan. Sebagian mengidentikkan dengan Afrika, khususnya Afro Amerika.  

Hanya saja karena mereka yang dituduh sebagai pelaku 9/11 mayoritasnya Timur Sedang, dan Asia Selatan identik secara perang Afghan, maka asosiasi Islam dengan mereka menjadi sangat likat dan dominan.

Kembali ke Bush pada Islamic Center di Washington DC. Dengan mimik wajah yang duga serius, Bush memulai pidatonya: “Thank you all for your hospitality… we just had a wide range discussion on a variety of issues…. etc”.  

Intinya pada kesempatan itu Presiden Bush memberikan bahwa sebagaimana warga Amerika yang lain, Komunitas Muslim juga lara, marah dan mengutuk peristiwa yang menimpa Amerika.  

Hal yang betul diapresiasi dari pidato Bush adalah penegasan bahwa serangan 9/11 kontradiktif dengan “Islamic Principles” (prinsip-prinsip Islam). Islam adalah agama damai. Dan orang-orang yang menyerang 9/11 ialah teroris dan mereka tidak mewakili Islam.  

Saya benar-benar bersyukur bahwa apa yang saya sampaikan kepadanya sehari sebelumnya di kota New York disampaikan dengan baik, sahih dan tegas di Islamic Center. Bahkan Presiden Bush menambahkan: “and we want the American people to know this”. (Kita ingin warga Amerika tahu ini kalau Islam bukan agama teror).  

Bahkan lebih jauh Bush mengakui serangan-serangan dan ketakutan Komunitas Muslim zaman itu. Bush menambahkan: “Mereka terang keluar rumah, ke pasar. Kecil hidup normal seperti warga Amerika lainnya. Wanita-wanita yang menutup Besar takut diganggu dan diserang”.  

Cerai-berai Bush menambahkan lagi: “Kejadian tersebut (serangan kepada Muslim) tidak mencitrakan Amerika yang saya kenal” (This is not the America that I know).  

Dengan pidato sedikit Bush itu saya dan Publik Muslim bisa lega bahwa Kepala Amerika mengakui jika Islam benar adalah agama damai. Bahkan mengantarkan secara terbuka ke publik jika serangan 9/11 tidak mewakili Islam dan orang-orang Islam.

“Teroris adalah teroris dan tidak mewakili agama, makin sesungguhnya tidak beragama”. Slogan tersebut menjadi sangat popular di lalu hari.  

Kembali ke kota New York. Pada hari yang setara ketika Bush berada di Islamic Center saya kembali diundang untuk membaca doa dalam acara “memorial service” di sebuah taman depan ground zero.  

Setelah peristiwa 9/11 acara-acara doa ini begitu laku. Saya sendiri seringkali hanya tampil membacakan Surah Al-Fatihah dan makna. Saya sangat menahan diri dibanding memberikan statemen. Khawatir sensitif & justeru memperkeruh keadaan.  

Satu perihal yang juga saya tidak lupakan adalah pada hari Senin, ataupun 7 hari setelah kejadian 9/11 Walikota New York kembali mengundang para tokoh agama untuk secara khusus melakukan doa dan pertemuan di City Hall (kantor walikota).  

Saat itulah pertama untuk mula-mula kalinya saya mulai kenalan dengan beberapa tokoh agama, termasuk lantaran Komunitas Yahudi. Satu diantara tokoh pegangan yang sempat kenalan dengan aku saat itu adalah Cardinal Egan, Pemimpin tertinggi Katolik New York.  

Sejujurnya ada kekhawatiran yang gede untuk kenalan dengan tokoh-tokoh Yahudi. Selain karena saya juga masih sangat curiga dengan iktikad mereka terhadap Umat ini. Sebuah perasaan tidak aman di sekitar itu.  

Sebaliknya mereka juga saya kira tidak ingin kenalan, bahkan dalam benak saya mereka pasti sebal kepada orang-orang Islam.  

Saya memang sering menyendiri atau paling tidak mendampingi Imam Pasha. Selain sebab saya baru di kota New York, juga ada kekhawatiran untuk berbicara. Khawatir Inggris saya salah. Atau juga khawatir menyampaikan segalanya yang sensitif.  

Tiba-tiba saja salah seorang Rabi Yahudi mendekati hamba dan salaman. Sambil tersenyum tempat mengenalkan diri: “Hi, how are you. I am Joe”.  

Beta tentu balas senyuman itu & merespon: “Hi, I am Shamsi”.  

Rupanya perkenalan singkat itu menjadi pintu awal dari komunikasi intens dan Dialog yang terjadi antara Komunitas Muslim dan Yahudi di kemudian   hari. Joe tunggal adalah Executive Presiden Board of Rabbis (Majlis Para Pendeta Yahudi) kota New York.  

Belakangan pertama saya sadar ternyata Board of Rabbis ini adalah salah satu organisasi Yahudi terkuat dunia. Karena ternyata memang New York adalah praja Yahudi terkuat dunia. Di sinilah para Pebisnis Yahudi tinggal & membantu menguatkan negara Yahudi di Timur Tengah.  

Beberapa kali saya diundang oleh Board of Rabbis ini dalam acara yang dikenal “Congressional Breakfast” (makan Pagi beserta anggota Kongress). Pada acara itu saya bisa “merasakan kekuatan” (sensing the power) yang mereka punya. Semua anggota Kongress pasti bakal menyampaikan dukunganya kepada pihak yang didukung oleh Yahudia itu.

Sehingga pada perjalanannya, ketika kami telah melakukan Dialog dengan Komunitas Yahudi, besar hal penting yang ada pada benak saya. Pertama, belajar strategi untuk membangun kedekatan dengan pihak-pihak pengambil kebijakan di negara ini.  

Dan tentunya yang kedua, sebab diakui atau tidak, Yahudi memiliki suara yang didengarkan. Suara inilah yang ingin kita pakai di dalam membela Komunitas Muslim di Amerika. Suara mereka didengar oleh politisi dan media. Sehingga ketika mereka bersuara membela Islam, suara mereka akan lebih didengar ketimbang bahana kami sendiri.  

Demikianlah hari-hari sampai di Minggu pertama dan kedua pasca 9/11 itu. Berbagai tantangan kami hadapi dan alami. Akan tetapi sekaligus membuka pintu-pintu dan peluang untuk semakin menancapkan kaki dalam bumi Amerika.

Sehingga memang benar kalau pada setiap tantangan ada peluang. Dan pada setiap kesulitan ada kemudahan. “Inna ma’al yusri yusra”.  

Di Minggu kedua pasca serbuan 9/11 kota New York balik menggelar acara besar secara nasional. Apa acara itu? Dan apa saja yang terjadi? (bersambung/ikuti terus pengalaman Imam Shamsi Ali masa detik-detik Tragedi WTC AS.   (*)