Pernah Jadi SPG, Inilah Perjalanan Karir Satu-satunya General Manager Wanita di Grup Artotel

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Lia Retno Sumiar Hardini atau akrab disapa Lia merasa tertantang setelah formal menjadi General Manager (GM) pada jaringan Grup Artotel, yakni  Artotel Semarang. Resmi menjabat pada Maret lalu, Lia langsung dihadapkan pada situasi pandemi yang turut “membunuh” dunia perhotelan.

Padahal seandainya situasi berlaku normal sekalipun, Lia juga memiliki segunung pekerjaan rumah yang harus diselesaikan mengingat konsep Artotel sangat berbeda dengan hotel pada umumnya.

Dengan tidak memiliki meeting room, Artotel mencoba menjual konsep baru secara nuansa full enterteinmen dan full art. Sebuah percobaan bisnis dengan tentu saja belum akrab di dunia perhotelan.

Saat ditemui, Lia menceritakan sebenarnya dia mengawali karirnya tidak sebagai pegawai hotel atau hal-hal yang berhubungan dengan dunia perhotelan. Wanita berusia 38 tahun dengan pernah kuliah di Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) tahun 2000 itu mengaku ingin menjadi seorang pramugari.

“Saya sempat ikut pelatihan dan ingin magang, tapi ternyata tidak diberi kesempatan karena ada beberapa hal yang dianggap tidak memenuhi persyaratan jadi pramugari, ” ujar perempuan yang saat kuliah mengambil haluan Teknik Informatika UDINUS ini.

Di tengah-tengah kesibukan kuliahnya dulu, Lia pula pernah bekerja freelance sebagai seorang Sales Promotion Girl (SPG) bermacam-macam produk.

“Dulu cita-cita saya malah pengin jadi pramugari, pernah saya daftar dan magang tapi akhirnya tak lolos. Setelah itu pernah oleh karena itu SPG dan dunia marketing. Belajar saya sendiri di teknik informatika Udinus, gak nyambung ya, ” ungkap wanita asal Banymanik Semarang ini dengan tawa.

Awal karirnya mengakar ke dunia perhotelan adalah menjelma vendor rental mobil di satu diantara hotel bintang lima di Semarang. Di situ mau tidak bersetuju dirinya melihat keseharian orang-orang hotel mulai dari front office hingga back officenya.

“Aku melihat pekerjaan mereka seperti apa, dan setiap harinya ketemu orang-orang baru kan seruan ya gak ngebosenin. Dari situ juga saya sering dikomplain terus dionek-onekke (dikata-katain) dan akhirnya melatih mentalku seperti ini, ” jelasnya.

“Tapi dibanding kerjaan itu aku sempet break pendek untuk skripsi terus aku ngelamar mas di Hotel Ciputra Semarang tahun 2005, ” imbuhnya.

Di hotel terbesar di Kota Semarang itu dirinya bekerja secara casual, dengan berarti bekerja hanya ketika bagian hotel membutuhkan tenaganya dan diupah pas saat ketika kerja.

“Saat itu saya kerja casual, karyawan yang dibayar harian dan berangkat masa dibutuhkan saja (on call). Pada ciputra itu saya bekerja sekitar satu setengah tahun, ” ungkapnya.

Saat awal tahun 2000-an, bekerja pada hotel sempat dianggap tabu sebab sebagian orang tua, apalagi kalau seorang perempuan bekerja di hotel hingga larut malam. Stigma negatifpun sempat diterima oleh Lia yang bahkan stigma itu diterima lantaran kedua orang tuanya sendiri.

“Orang tua saya sempat tidak setuju hamba kerja di hotel karena di saat itu kebanyakan orang usang menganggap kerja di hotel tersebut tabu karena dianggap bekerja sebagai pelayan rendahan yang tugasnya membersihkan makanan dan melayani tamu, ” bebernya.

“Sampai akhirnya aku aplly jadi sekertaris pengusaha asing di daerah Ungaran sekitar tiga setengah tahun. Oleh sebab itu sekertaris beliau orang asing ini awak kan jadi jembatan komunikasi secara pihak luar ya, salah satunya orang hotel juga, ketemu lagi sama lingkupnya orang-orang hotel, ” imbuhya.

Setelah kontraknya bersama pengusaha aneh tersebut selesai, Lia bergabung secara Hotel Horizon simpang lima (sekarang Arkenzo) dan menduduki posisi penulis GM.

“Jenuh jadi sekretaris pengusaha langka, Pada tahun 2008 aku jika aplly di hotel horizon jadi sekretaris GM. Nah dari situ aku betul-betul ngerti dunia hotel dari sisi manajemennya, ” ujarnya.

Kepala tahun bekerja, Lia mendapat nasehat dari GMnya dan mengatakan “kalau kamu masuk ke hotel serta hanya jadi sekretaris, iki wes mentok (ini sudah mentok)”. Saat itu usia Lia sudah kira-kira 27 tahun.

“Usiaku saat itu kira-kira 27-an dan itu dianggap suntuk untuk jadi sekretaris GM, melainkan kalau aku mau mencoba departemen lain seperti sales, marketing, accounting. Pada akhirnya aku masuk dalam departemen sales, ” ungkapnya.

Lia sendiri pertama kali menjadi seorang General Manager pada tahun 2013 pada sesama grup Horison, tepatnya pada hotel @Home yang saat tersebut baru launching di Kota Semarang. Setelah dari @Home dia berpindah-pindah kerja ke banyak tempat.

“Tanpa terasa aku baru naik di lapisan GM tahun 2013 di hotel @Home Pandanaran. Dari situ ego pindah ke Horison Ciledug Jakarta, lalu ke Horison India. Oleh sebab itu sudah tujuh tahun aku oleh karena itu GM saat ini. Bulan Desember 2019 aku tidak melanjutkan persetujuan dengan grup Horison karena sudah merasa tak ada tantangan lagi, ” ucapnya.

Setelah putus kontrak dibanding gurp Horisln, pada maret 2020 atau persis pertama kali virus corona (covid-19) melanda Indonesia, Lia resmi menjabat sebagai GM Artotel dalam situasi bisnis pariwisata serta perhotelan jatuh karena pandemi.

“Dan keputusannya sekarang aku memutuskan gabung dengan Artotel karena menurutku di sini ada tantangan yang tidak normal, ” ungkapnya.

Liapun tak bisa langsung menjukkan performanya kerena selama tiga bulan pasca covid-19 melanda Praja Semarang, dunia perhotelan ditutup untuk mengantisipasi penularan virus. Barulah pada awal Juli 2020, Artotel beraama GM barunya ini memulai bergeliat dengan tagline “New Live Style” dengan menggelar konser adaptasi.

Di perserikatan Artotel sendiri Lia adalah satu-satunya GM perempuan. Alasan dia tertarik menjadi GM Hotel tanpa meeting room tersebut karena memiliki tantangan dengan belum pernah dia temui.

“Dan aku sendiri adalah satu-satunya GM cewek di seluruh grup Artotel. Saya bener-bener tertarik dengan konsep life style yang mana hotelnya tak ada meeting roomnya. Kalau hotel-hotel lain pasti ada paket meeting room, sedangkan Artotel tidak ada. Di sini benar-benar hanya menyediakan kamar untuk menginap agar para-para tamu enjoy tidak mikir kerjaan atau kegiatan yang biasanya hotel lain seperti itu, ” bebernya.

Artotel memang hanya menyediakan tempat buat orang yang benar-benar membutuhkan wadah istirahat.   Selain itu, hotel yang mengusung tema kesenian serta hiburan itu menrut Lia mampu menjadi trobosan baru dalam negeri perhotelan.

“Saya tertantang untuk membuat perbedaan enterteinmen agar setiap pengunjung merasakan terhibur dan nyaman di sini, ” ungkapnya.

Selain nuansa seninya, para-para karyawan di Artotel tidak memakai seragam formal sepertu halnya dalam hotel-hotel lain. Di sini semua bebas mengenakan pakaian apapun makin boleh bertato, bertindik, atau mewarnai rambut.

“Terus di Artotel itu gak lagi pakai pakaian formal bagaikan high hills untuk permpuan ataupun pantovel untuk laki-laki dan lain-lain. Penampilan rambut bisa bebas, boleh bertato, bertindik, dan penampilan apapun. Kenapa seperti itu, kami mau menyampaikan kemasan yang berbeda, ” katanya merasa bangga.

“Tantangan lain pada sini adalah bagaimana mengenalkan hotel dengan nuansa seni yang likat. Karena memang sejak awal Artotel didirikan memang untuk berjualan kecil. Di sinilah tantangannya bagaimana mengenalkan seni untuk kemudian dikonsumsi massa untuk hiburan sekaligus menikmatinya, ” terangnya.

Artoel punya alasan yang filosofis kenapa harus seperti ini, patuh Lia pihaknua tidak semata-mata ingin tampil beda saja. Mereka mau menarik minat komunitas atau bangsa yang memang memiliki kecintaan terhadap seni baik itu seni music, lukis, teater, atau apapun.

“Kita menyampaikan kesempatan orang-orang untuk belajar bertambah dalam tentang seni, termasuk untuk karyawan dan manajemen disini tercatat saya. Kami yakin segmen saya pasti ada, ”

“Saya benar-benar tertantang untuk memperkenalkan hotel berkonsep lembut dan merasa sangat bahagia bila kami berhasil mengenalkan konsep terakhir yang kami pasarkan, ” bebernya.

Dalam akhir Lia menyampaikan bahwa dirinya ingin terus mencari tantangan buat mengembangkan diri dalam berkarya.

“Target aku kedepan saya ingin terus berkarya sampai memang kemampuan saya sudah tidak dibutuhkan lagi, ” ucap  Lia Retno Sumiar Hardini General Manager (GM) Artotel Semarang, periode jaringan  Grup Artotel.   (*)