Melakoni Sejarah Klepon, Makanan Tradisional Orang Jawa

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Belakangan itu, klepon ramai jadi perbincangan dalam media sosial dan juga di masyarakat. Ada yang menyebutkan kalau makanan tradisional klepon ini tidak Islami.  

Namun jika dilihat lantaran segi sejarahnya, sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko menerangkan bahwa klepon sudah disebutkan dalam catatan-catatan serat centhini.  

Artinya klepon sudah dikenal masyarakat pra era serat centhini dibuat yaitu sekitar tahun 1814-1823.  

“Di sendat centhini itu sudah disebutkan klepon, sehingga itu dapat sebagai keterangan catatan sejarah. Namun, sebelum tersebut saya meyakini bahwa klepon telah ada karena klepon sudah lebur dalam tradisi kuliner orang Jawa, ” papar Heri.  

Heri menambahkan bahwa klepon bisa dikatakan jadi cemilan bagi orang Jawa sebab posisinya sebagai makanan ringan yang biasanya dihadirkan sebagai teman minum teh. Dalam konsep Jawa, lazim dibilang dengan ‘adu wedang’ atau kawan untuk minuman hangat.  

Namun karena dalam tradisi dapur orang Jawa terbiasa membuatnya, klepon menjelma makanan ringan yang biasa dijual di pasar-pasar tradisional sehingga banyak orang yang berasal dari perantauan sanggup membawanya.  

Hebatnya menurut Heri, klepon mampu menembus sekat-sekat sosial, kebiasaan, maupun agama. Hal tersebut benar klepon dapat menyentuh lidah bervariasi macam kelas, tanpa gengsi sosial yang membuatnya menjadi konsumsi seluruh kalangan.  

“Jadi, klepon  ini bisa dikatakan melibas sekat sosial, petunjuk, entah itu kaya maupun miskin, entah itu perempuan maupun laki-laki, entah itu kakek, nenek, bocah, semua bisa makan klepon itu, ” tandas dia. (*)